Anna perlahan melepaskan pelukannya, melirik Jeanne dengan lembut. Lalu berkata."Aku sangat khawatir karena kamu tidak membalas pesanku." Anna duduk di tepi ranjang, jari jarinya mengelus tangan Jeanne.
"Maaf..." Jawab Jeanne pelan. Anna menghela nafas pelan."Serius! aku menunggu pesanmu hingga pukul tiga malam, kamu kenapa bisa terlambat pulang?!" Ucap Anna dengan nada mengomel meski ekspresi khawatir masih ada.
Jeanne terkekeh pelan dan menggaruk pipinya dengan telunjuk."Aku tidak sengaja menonton pertunjukan badut di pinggir jalan.."
Anna mengembungkan pipinya."Lalu bagaimana kamu bisa tertabrak mobil? apa kamu mabuk dengan rekan kerjamu lalu pulang larut?"
Alis Jeane sedikit terangkat."Jadi itu alasan yang dibuat detektif khusus untuk merahasiakan kasus ini." Pikir Jeanne, dan dia tersenyum sambil mendengar anna memarahinya. "Tidak..aku tidak mabuk, terlebih kamu tahu, kalau aku tidak suka alkohol." Jawab Jeanne, lalu melanjutkan."Kamu menunggu balasan pesanku hingga pukul tiga malam?" Jeanne melirik langit pagi hari. Lalu dia menoleh jam dinding.
"Pukul 8 pagi...aku pingsan selama itu?" Gumam Jeanne dalam hatinya.
Klek!
Pintu terbuka, Selena masuk sambil membawa kantong obat dan memberikannya kepada Jeanne."Untuk jadwal minum obatnya sudah saya tulis didalam sana." Katanya dengan nada formal, sambil tersenyum.
"Terima kasih" Ucap Jeanne dan Anna.
"Kamu bisa pulang hari ini juga" Selena menyenggol kacamatanya. Keduanya mengangguk."Oh dan ini, Kamu bisa membawanya." Selena memberikan Kruk setelah mengambilnya dari loker pasien.
"Kalau begitu, saya permisi..." Selena tersenyum, lalu berbalik pergi meninggalkan keduanya.
"Dia dokter yang baik." Puji Anna, Jeanne mengangguk."Benar.." Keduanya melirik Selena pergi meninggalkan ruangan.
"Baiklah..Ayo kita pulang" Ajak Jeanne, beranjak bangun dari ranjang. Anna terkejut."Eh?" Lalu berkata."Kamu ingin pulang sekarang? nanti jika lukamu mengalami nyeri bagaimana? sebaiknya jangan dulu pulang."
Jeanne tertawa dengan kepanikan Anna."Tidak apa apa...lagi pula, Dokter Royle bilang aku sudah bisa pulang."
"Kamu yakin?" Tanya Anna memastikan, raut wajah khawatirnya melirik Jeanne. Jeanne mengangguk."Aku yakin." Jawabnya.
Anna menghela nafas berat, dan mulai membantu Jeanne membereskan pakaiannya. Beberapa menit berlalu mereka keluar dari ruangan setelah selesai, berjalan menuju lobi dan melewati beberapa anak tangga.
Anna berjalan sambil menuntun Jeanne yang belum terbiasa menggunakan Kruk. "Ini cukup merepotkan." Komentar Jeanne, berjalan tertatih-tatih, sesekali dia melirik area rumah sakit milik detektif khusus."Ini sama seperti rumah sakit biasanya" Pikirnya. Sesampainya di lobi rumah sakit.
Seorang perawat wanita datang menghampiri mereka dan berkata."Permisi, Nona weels?" Tanya seorang perawat medis. Jeanne mengangguk."Ada apa?" Tanyanya.
Wajah perawat itu seakan berat untuk mengatakannya sesuatu."P-pria yang menabrak anda telah membayar biaya pengobatan anda." Ucapnya Pelan. Sambil melirik kearah Leo Tolstoy yang berdiri di depan meja resepsionis, di sebelahnya ada Eugene, Johan dan Isabella.
Mendengar itu mata Anna seketika melihat Leo dengan tajam, Melihat reaksi sahabatnya."Aku lupa..anna pasti akan memarahinya." Jeanne menepuk dahinya.
Anna melepaskan gandenganya dari Jeanne dan bergegas berjalan menuju Leo,"Tunggu anna." Jeanne mencoba menghentikannya, namun Anna hanya menoleh sambil tersenyum, melanjutkan langkahnya dengan cepat.
"Permisi, tuan." Anna berdiri di depan Leo dengan tangan di pinggang. Kepalamya mengangkat melirik Leo Tolstoy yang tinggi.
Leo yang sedap menghisap cerutunya menoleh kebawah. Tersenyum."Ya, ada yang bisa aku bantu?" Jawabnya.
"Apa anda mabuk ketika berkendara hingga menabrak sahabatku? jika anda sedang mabuk jangan mengendarai mobil." Anna mengomel, layaknya seorang ibu.Tanpa memberi Leo celah untuk menjawab, dia melanjutkan."Kamu bisa dituntut dan di hukum!"
Ekspresi Leo sedikit terkejut."Ah— itu...saya mohon maaf sebesar-besarnya." Jawab Leo, mencoba tersenyum.
Mendengar Leo yang di marahi oleb Anna, Isabella menjadi kesal."Hei, apa maks—" Perkataan nyaringnya terpotong oleh Johan yang menutup mulut Isabella dengan permen cokelat.
"tenanglah!" Kata Johan, pelan. Isabella menyilangkan Tangannya di dada sambil mengembungkan pipinya.
Jeanne yang telah menyusul. Menepuk bahu anna pelan."Tidak apa apa, Anna. Aku sudah memaafkannya dan tidak perlu kita perpanjang masalahnya" Ucapnya pelan. Mencoba tersenyum sambil melirik ketiganya.
"Tapi Jeanne.." Anna melirik sahabatnya, Jeanne hanya tersenyum.
"Baiklah Baiklah" Eugene berjalan dan berdiri di depan Anna."Jangan marah-marah seperti itu, nona.." Eugene perlahan berjongkok dan menyentuh tangan Anna, dan berkata."Menikahlah denganku, nona cantik."
"Tanganmu yang lembut serta rasa ke Ibu—" Kata katanya terpotong oleh Anna yang menampar Eugene dengan telapak tangan kecilnya.
"J-jangan main-main!!" Wajahnya memerah, suaranya terbata-bata.
"Orang Aneh!" Komentar Jeanne kepada Eugene, sambil memperhatikan sahabatnya yang wajahnya seketika memerah.
"Mohon di terima ini sebagai permintaan maaf saya." Leo melirik Johan, mengisyratkan sesuatu.
Johan mendekat dan memberikan paper bag berwarna hitam dengan motif yang terlihat mewah.
"B-baiklah, terima kasih." Jeanne menerima paper bag itu.
"Ayo pergi Jeanne, selamat tinggal, tuan dan nyonya." Ajak Anna tiba-tiba dan tergesa gesa, wajahnya masih memerah. Jeanne mengangguk.
Jeanne berjalan sambil di bantu Anna."Wajahmu memerah, Anna" Jeanne melirik sahabatnya."T-tidak apa apa" Jawabnya,"P-pria aneh!" Kata Anna, pelan.
"Kamu benar" Jawab Jeanne dalam hatinya, dia hanya terkekeh mendengar suara sahabatnya yang mengomel terbata-bata, lalu Jeanne menoleh kebelakang saat sudah melewati pintu keluar rumah sakit.
Eugene tersenyum sambil melambaikan tangannya, bagian pipinya sedikit merah akivat tamparan dari Anna.
...
"Apa kamu lelah Jeanne?" Tanya Anna, sambil berjalan menuju Halte bus terdekat. Jeanne mengangguk."Y-yah..aku sedikit kelelahan." Jawab Jeanne.
"Oh, benar. Aku akan menginap sementara waktu di rumahmu." Anna menoleh sambil tersenyum kepadanya.
Jeanne mengangkat alisnya."Kenapa?" Tanyanya. Bingung.
"Kenapa kamu bertanya? sudah jelaskan, aku harus merawat kamu." Jawab Anna, sambil menggandeng Jeanne yang jalan kesusahan.
"Tidak usah, bagaimana dengan pekerjaanmu, kamu harus bekerjakan besok? aku tidak mau merepotkanmu." Ujar Jeanne, Mereka berhenti berjalan ketika di lampu merah, Jeanne melirik kendaraan yang berlalu lalang.
"Tidak apa apa, Jeanne. Dan sekali lagi aku katakan, aku tidak suka jika kamu bilang 'tidak mau merepotkan' aku tidak keberat, toh kamu sedang terluka." Ucap Anna sambil tersenyum, sambil memeluk tangan Jeanne.
Jeanne melirik tangannya yang dibalut gips dan kakinya yang ditopang oleh kruk. Jeanne tersenyum pahit."Kamu benar..." Katanya."Maaf." Lanjutnya, pelan.
Setelah Lampu merah berganti menjadi hijau, mereka segera menyebrang jalan, begitupun orang-orang yang berlalu lalang.
...
Setelah sampai di halte bus, dan menunggu beberapa saat sampai bus datang. Mereka naik dan duduk bersampingan, Jeanne duduk di dekat Jendela, melirik gedung-gedung tinggi yang berganti saat bus melaju.
Delapan menit berlalu setelah bus berjalan, Suasana Hening, Anna yang tertidur sambil bersandar dibahu Jeanne. Jeanne meliriknya sambil tersenyum, lalu mengambil Ponsel di saku mantelnya.
Sesaat setelah membuka ponselnya, Jeanne tersenyum. "Dia benar-benar mengkhawatirkanku." Pikirnya saat melihat lima belas pesan dan lima panggilan telepon yang tidak terjawab dari Anna.
Jeanne membaca pesan-pesan panjang itu dari sahabatnya, sesekali dia tersenyum dan tertawa pelan, memikirkan wajah panik Anna saat dia menghilang tanpa membalas pesan.
"Terima kasih, Anna" Ucapnya Pelan, lalu membalas pesan Anna.
[[Jeanne: Aku baik-baik saja, maaf membuatmu khawatir"]]
Setelah itu dia menutup ponsel lipatnya dan memasukan kedalam saku mantel. Jeanne menatap paper bag hitam yang terlihat mewah, namun Jeanne memutuskan untuk tidak membukanya sekarang.
"Aku ingin menenangkan pikiranku untuk sekarang....lain kali akan aku buka dan aku lihat isinya." Pikirnya, lalu pandangannya menatap kaca yang perlahan basah oleh rintik hujan.
...
Distrik 4.
Setelah sampai di halte bus distrik empat, Jeanne dan Anna menaiki taksi menuju Apartemen tempatnya tinggal.
Dengan jalanan yang diguyur hujan dan Jalanan distrik empat dibuat macet. Pukul dua belas siang Jeanne dan Anna telah sampai di depan gedung apartemen Jeanne.
Jeanne dan Anna menaiki anak tangga sesekali mengobrol dan bercanda. Jeanne melihat sekeliling, suasana yang cukup tenang untuk apartemen kelas menengah, melirik jam dinding tua di lobi sebelumnya dan lorong gedung yang sedikit tua membuat Jeanne nyaman dan tenang.
Sesampainya di depan pintu kamarnya yang terlihat tua namun cukup kokoh dan perlahan memasukan kunci, Jeanne terdiam sesaat. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan dan memutar kenop pintu.
KLIK!
Bunyi kunci di lepas."Aku pulang." Ujarnya, pelan. Jeanne melirik Anna."Ayo masuk" Ajaknya sambil berjalan masuk dan berdiri di samping pintu, seolah menyambut tamu.
Anna mengangguk."Permisi" Ucapnya dengan sopan sambil masuk, Jeanne menutup pintunya.
Clak!
Jeanne menyalakan saklar lampu, ruangan yang gelap kini terang.
Anna melirik buku-buku novel milik Jeanne yang tergeletak di meja berantakan, baju-baju yang jatuh dari gantunganya, lalu matanya tertuju pada wastafel. Piring-piring kotor menumpuk. Lalu dia menatap Jeanne yang telah meletakan paper bag di lantai, dan merebahkan dirinya di sofa.
Anna hendak berbicara namun tidak jadi, dia melirik Jeanne yang wajahnya lesu.
Jeanne segera bangkit."A-aku lupa membereskannya....t-tapi aku akan melakukannya." Dia tersenyum masam. Lalu melanjutkan."Maaf, aku tidak enak kamu melihat tempatku seperti gudang."
Anna tertawa melihat reaksi Jeanne, dia tertawa pelan."Kita lakukan bersama setelah beristirahat." Ajaknya sambil tersenyum.
Jeanne mengangguk "Baik."
"Aku akan membuat teh dan roti." Anna meminta mantel Jeanne yang masih di kenakan oleh Jeanne, Jeanne bangun dari duduknya dan memberikan mantelnya, Anna menggantung kedua mantel di tempatnya.
"Biar aku bantu."Jeanne mengambil kruknya. Anna berjalan menuju dapur, lalu menoleh kebelakang." Kamu istirahat saja." Perintahnya sambil tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Jeanne mengangguk."B-baiknya.." Jawabnya, pelan sambil membereskan buku-buku novelnya dan menatanya rapi di meja.
Beberapa saat berlalu, Anna membawa nampan berisi dua gelas teh dan roti panggang hangat. Anna meletakannya di meja.
"Silahkan. Tidak ada apa apa di kulkas, hanya ada itu saja." Ucap Anna. Jeanne tersenyum."Terima kasih" Jawabnya sambil mengambil sepotong roti yang di lumuri selai coklat."Sekarang kamu tuan rumahnya." Ucap Jeanne, bercanda.
Anna yang telah mengigit rotinya, seketika wajahnya memerah dan menutup mulutnya dengan tangan. Melihat reaksi Anna, Jeanne tertawa pelan.
...
Pukul 5 sore.
Setelah lama beristirahat sambil menonton film horor bersama. Anna pergi mandi duluan dan Jeanne duduk di sofa sambil melirik sekitar apartemennya yang berantakan dan tidak terlalu besar.
Jeanne mengambil kruknya dan bangkit, dia berjalan menuju meja hias dan melihat foto keluarganya, Jeanne mengambil foto itu.
Foto keluarga yang terlihat bahagia, dimana Ayah dan ibu Jeanne tersenyum. Lalu mata Jeanne tertuju pada dirinya yang kecil difoto.
Jeanne meliriknya cukup lama, namun bibir Jeanne kecil difoto itu seolah bergerak dan mengucapkan sebuah kata.
"Kau munafik"
Mata Jeanne membesar dan mencengkram bingkai kayu foto, membuat kaca bingkainya retak dan melemparnya.
PRANG!!
Kaca bingkai itu pecah dan berhamburan. Jeanne terjatuh dan menutup telinganya seolah tidak ingin mendengar.
Pintu Kamar mandi terbuka cukup keras, Anna yang mengenakan Handuk keluar tergesa gesa.
"Ada apa Jeanne?" Tanya Anna Khawatir, matanya tertuju pada kaca bingkai yang pecah.
Jeanne menatap Annna. Dia perlahan Bangkit di bantu Anna."Ada apa Jeanne?' Tanya Anna sekali lagi dengan nada yang sama.
Jeanne mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya."Bukan apa apa...Hanya serangga." Jawab Jeanne berbohong.
Anna menghela nafas tanpa curiga."Baiklah...biar aku yang membereskannya, sekarang giliranmu mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat, kamu tidak apa apa kan?" Tanya Anna memastikan kondisi Jeanne.
Jeanne mengangguk pelan."Iya, aku baik baik saja, kakiku sudah cukup pulih." Jawabnya dan berjalan menuju kamar mandi. Anna melirik sahabatnya dengan khawatir.
Di kamar mandi, Jeanne melepas kemeja dan seluruh pakaianya, Jeanne tidak melepas gipsnya karena selena sebelumnya memberitahu bahwa gips itu tahan air. Jeanne berjalan dengan hati-hati sambil berpegangan pada dinding kamar mandi.
Jeanne membasuh tubuhnya menggunakan air shower, lalu berendam di bak mandi air hangat yang telah Anna siapkan.
Setelah selesai berendam dan memakai sabun dan membilasnya, Jeanne berdiri di depan kaca. Menatap wajahnya sendiri dengan hening, pikirannya seolah kosong.
Sesaat Jeanne teringat tawaran Leo tolstoy dan perkataanya. Jeanne mengigit bibirnya, perlahan menarik nafas dan memejamkan matanya. Mencoba menenangkan pikirannya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Jeanne mulai membereskan apartemennya dengan Anna. Mereka mulai memasak makan malam dengan bahan bahan yang tersisa.
Mereka tertawa dan bercanda, tersenyum sambil memasak bersama.
"Selamat makan." Ucap Annna.
Jeanne menatap makanan di meja makan. Roti panggang, telur goreng dan saus, serta makaroni yang menggugah selera.
"Selamat makan." Lanjut Jeanne.
...
Pukul 10 Malam.
Setelah selesai makan malam dan membereskannya, Jeanne dan Anna menonton beberapa film hingga larut malam.
"Astaga...aku lupa memeriksa ponsel." Anna bangkit, dan berjalan menuju tasnya. Lalu mengambil Ponselnya.
"Apa kamu lupa untuk mengabari Ayah dan ibumu?" Tanya Jeanne.
Anna menggelengkan kepalanya."Tidak, aku sudah memberitahu mereka tentangmu, awalnya mereka juga ingin ikut, tapi karena pekerjaan mereka tidak bisa ikut" Lalu menambahkan."Ah iya aku hampir lupa, mereka meminta maaf karena tidak bisa menjengukmu."
"Tidak apa apa..."Jawab Jeanne.
Sesaat membuka ponsel dan mengecek pesannya Anna melirik Jeanne." Kamu membalas pesanku?" Tanya Anna.
Jeanne yang duduk disofa mengambil kruknya dan bangkit. Dia mengangguk."Iya, aku rasa. Aku harus membalasnya." Jeanne menggaruk pipinya, canggung.
Anna tersenyum."Aku senang." Anna berjalan dan memeluk Jeanne. Jeanne terkejut."Anna..."
Malam semakin larut, Jeanne dan Anna berbaring di ranjang sambil menutupnya dengan selimut. Mata mereka menatap Langit-langit apartemen tua.
"Anna, bagaimana jika kita besok menonton film yang kamu katakan di pesan." Kata Jeanne tiba-tiba.
"Ini bukan akhir pekan, lagi pula kondisimu tidak baik saat ini." Ujar Anna. suaranya berbisik.
"Aku baik baik saja, kok." Jeanne terkekeh.
"Kamu yakin?" Tanya Anna, memastikan.
Jeanne mengangguk."Iya. Aku sangat yakin." Jawab Jeanne.
Anna berbaring menyamping, menatap Jeanne disebelahnya."Aku menantikanya." Anna tersenyum.
