Cherreads

Chapter 7 - 1.7 Nyx

Setelah sarapan selesai, suasana di penginapan The Golden Inn mulai ramai lagi. Tamu-tamu pagi mulai berdatangan, beberapa petualang yang baru bangun dari tidur semalam, dan anak-anak kembar Lyre sibuk mondar-mandir membawa nampan berisi roti dan teh panas. Nyx duduk di sudut meja, masih memeluk gelas susu hangatnya dengan kedua tangan kecil, seolah takut gelas itu akan diambil orang lain.

Aku menatapnya sebentar. Baju compang-campingnya penuh noda tanah dan debu, rambut hitamnya kusut, dan baunya… ya, sudah bisa ditebak. Bau keringat, sampah gang, dan malam yang panjang tanpa mandi.

“Lyre,” panggilku pelan sambil mendekati konter. “Boleh pinjam kamar mandi lantai atas agak lama nggak? Nyx butuh mandi dulu. Aku juga mau cuci badan.”

Lyre mengangguk sambil tersenyum lebar, tapi matanya melirik Nyx dengan sedikit ragu.

“Tentu, Ely. Kamar mandi di ujung koridor, yang pintunya ada gambar bunga matahari. Air panasnya sudah disiapin sejak subuh. Sabun dan handuk bersih ada di rak. Kalau butuh baju ganti, aku punya beberapa baju anak perempuan lama milik anak-anakku. Ukuran Nyx kayaknya pas.”

“Terima kasih banyak, Lyre.”

Aku kembali ke meja, menepuk pelan bahu Nyx.

“Ayo, Nyx. Mandi dulu. Kau bau banget, tahu nggak?”

Nyx langsung menunduk, telinganya merunduk malu. Tapi dia nggak protes, cuma mengangguk kecil dan mengikuti aku naik tangga.

Kamar mandi di lantai atas ini sederhana tapi bersih. Lantai batu yang licin karena sering dipakai, bak kayu besar yang sudah diisi air panas beruap, dan satu jendela kecil menghadap ke halaman belakang penginapan. Aroma sabun herbal dari rak tercium samar.

Aku membuka keran air dingin sedikit supaya campurannya pas, lalu menoleh ke Nyx.

“Aku mandi duluan ya, biar cepat. Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana. Kalau mau, duduk di bangku kayu itu.”

Nyx mengangguk lagi, duduk di bangku kecil sambil memeluk lututnya. Matanya mengikuti gerakanku, tapi nggak bicara.

Aku melepas baju seragam SMA yang sudah kusut dan kotor itu, melipatnya rapi di rak, lalu masuk ke bak. Air panas langsung membalut tubuh, membuat otot-otot yang pegal semalam langsung rileks. Aku menghela napas panjang, menikmati momen tenang yang jarang-jarang kudapat sejak datang ke dunia ini.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Lalu, suara kecil Nyx terdengar dari bangku.

“…Kak Ely.”

“Hm?”

“Aku… boleh cerita?”

Aku memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk tanpa menoleh.

“Boleh. Cerita aja. Aku dengerin.”

Nyx diam dulu, seolah mengumpulkan keberanian. Telinganya bergerak-gerak pelan, mendengar suara air yang menetes dari rambutku.

“Dulu… aku punya keluarga. Mama, Papa, dan kakak laki-laki. Kami tinggal di desa kecil di pinggir hutan utara, namanya Desa Nocturne. Banyak beastkin kucing hitam di sana. Kami hidup damai, meski kadang orang dari kota bilang kami pembawa sial.”

Dia berhenti sebentar. Suaranya mulai bergetar.

“Tahun lalu… pas musim panen, ada rombongan ksatria dari kerajaan datang. Katanya ada perintah dari atas: ‘bersihkan desa yang dicurigai menyembunyikan pemberontak’. Mereka bilang kami sembunyikan senjata, atau bantu bandit. Tapi itu bohong. Kami cuma petani dan pemburu kecil-kecilan.”

Aku membuka mata, menatap ke dinding beruap. Dadaku terasa sesak.

“Mereka… bakar rumah-rumah. Papa bilang kami harus kabur ke hutan. Kakak laki-laki aku yang paling kuat, dia lawan mereka supaya kami bisa lari. Aku lihat dia… dipenggal di depan mata Mama. Mama teriak, lalu… panah nyasar ke dadanya. Aku cuma bisa lari sambil nangis. Aku nggak berhenti lari sampai kaki aku nggak bisa lagi.”

Suara Nyx semakin kecil.

“Aku sampai ke Eldoria Luminaris sendirian. Awalnya aku coba minta tolong ke orang-orang. Tapi begitu mereka lihat telinga hitamku, mereka langsung usir. Ada yang lempar batu, ada yang bilang ‘pergi, pembawa kutukan!’. Akhirnya aku cuma bisa hidup di gang-gang. Mencuri roti basi dari sampah toko roti, minum air dari selokan kalau haus. Kadang… aku cuma tidur di bawah gerobak sampah supaya nggak kedinginan.”

Aku diam. Air panas di bak terasa tiba-tiba dingin.

“Semalam… aku lagi cari makanan di gang itu. Aku lihat ada sisa roti di tong sampah, tapi tiba-tiba kepala aku pusing banget. Aku jatuh, dan… nggak ingat lagi sampai bangun di kasur Kak Ely.”

Suara air menetes lagi. Nyx menarik napas dalam-dalam.

“Aku takut, Kak. Takut kalau Kak Ely juga bakal usir aku besok. Takut kalau semua orang di sini tahu aku beastkin kucing hitam, lalu mereka benci Kak Ely juga karena bawa aku.”

Aku keluar dari bak pelan-pelan, mengambil handuk dan membungkus tubuh. Lalu aku jongkok di depan Nyx, menatap matanya yang basah.

“Nyx.”

Dia menatapku, telinganya gemetar.

“Aku nggak akan usir kau. Aku janji.”

“Kenapa… Kak Ely nggak takut?”

“Karena aku juga pernah merasa sendirian banget di dunia yang asing. Dan karena… aku benci lihat orang kecil kayak kamu disakiti cuma gara-gara telinga atau warna bulu.”

Aku mengusap air mata di pipinya dengan ibu jari.

“Sekarang giliranmu mandi. Airnya masih hangat. Aku tunggu di luar, ya? Setelah ini, kita cari baju bersih buatmu. Lyre bilang ada baju lama anaknya yang pas.”

Nyx mengangguk pelan, lalu berdiri. Dia melepas baju compang-campingnya dengan tangan gemetar, masuk ke bak, dan langsung meringkuk di air panas. Matanya tertutup, tapi kali ini bukan karena takut—lebih seperti… lega.

Aku keluar dari kamar mandi, menutup pintu pelan.

Di koridor, aku bersandar ke dinding kayu, menarik napas panjang.

“Dunia ini… memang nggak adil ya.”

Tapi setidaknya, hari ini, ada satu orang kecil yang nggak perlu tidur di gang lagi.

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin aku ajak Nyx ke guild. Siapa tahu ada misi yang cocok buat berdua. Atau… setidaknya, ajak dia jalan-jalan di kota dengan menggunakan dari Lyre.”

Setelah mandi selesai, Nyx keluar dari kamar mandi dengan rambut hitam yang masih basah dan menetes-netes. Aku sudah pakai baju ganti yang kubawa dari Bumi—seragam SMA yang kusut tapi setidaknya bersih setelah keringkan sebentar dengan sihir angin kecil. Nyx pakai baju anak perempuan lama milik anak Lyre: dress sederhana warna krem dengan lengan panjang, agak longgar di badannya yang kurus, tapi cukup nyaman.

Tapi masalahnya… telinga kucing hitamnya masih berdiri tegak di atas kepala, dan ekor hitam panjangnya melengkung ke belakang, sesekali bergerak pelan seperti punya pikiran sendiri. Kalau keluar begini, pasti langsung jadi pusat perhatian—dan bukan perhatian yang baik.

Aku menoleh ke Nyx yang lagi mengeringkan rambut dengan handuk kecil.

“Nyx, tunggu sebentar ya. Aku ke bawah dulu.”

Aku turun tangga cepat, mendekati Lyre yang lagi menyeka meja-meja.

“Lyre, maaf ganggu lagi. Apa ada jubah atau mantel panjang yang bisa dipinjam? Yang cukup besar buat nutupin… kepala dan ekor Nyx.”

Lyre berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan. Ekspresinya campur aduk—kasihan, tapi juga agak khawatir.

“Ada satu mantel tua milik suamiku dulu. Panjangnya sampai betis, tudungnya lebar. Tunggu ya.”

Dia masuk ke ruang belakang, keluar lagi bawa mantel cokelat tua yang agak pudar warnanya, tapi kainnya tebal dan masih bagus. Tudungnya cukup dalam untuk nutupin telinga kalau ditarik ke depan, dan bagian bawahnya longgar buat sembunyiin ekor.

“Ini… cukup kan? Aku kasih pinjam aja, nggak usah balikin kalau memang dibutuhin.”

“Terima kasih banyak, Lyre. Aku janji bakal jaga baik-baik.”

Aku naik lagi, kasih mantel itu ke Nyx.

“Coba pakai ini. Tarik tudungnya ke depan, biar telingamu nggak kelihatan. Ekornya… coba masukin ke dalam mantel, atau lipat di pinggang. Kalau gerak-gerak, orang bakal curiga.”

Nyx mengenakan mantel itu dengan hati-hati. Mantelnya kebesaran, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang lagi main pura-pura jadi petualang dewasa. Tudung ditarik ke depan, telinganya langsung tersembunyi di balik bayangan kain. Ekornya dia lipat dan selipkan ke dalam, meski sesekali masih bergerak pelan di balik kain.

“…Gini… cukup?”

Aku mengangguk, tersenyum kecil.

“Cukup banget. Kelihatan seperti anak manusia biasa yang lagi pakai mantel kebesaran. Bagus.”

Nyx menunduk, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

“Terima kasih… Kak Ely.”

Aku mengacak rambutnya pelan di bawah tudung.

“Ayo, kita ke guild. Aku pengen cek misi yang cocok buat kita berdua. Kau ikut aja dulu, nggak usah ikut bertarung kalau belum siap. Cuma nemenin dan lihat-lihat.”

Nyx mengangguk mantap, kali ini tanpa ragu.

Kami keluar dari penginapan. Matahari pagi sudah naik tinggi, jalanan Eldoria Luminaris mulai ramai dengan pedagang yang buka kios, anak-anak berlarian, dan petualang yang bergegas ke guild. Aku berjalan pelan supaya Nyx nggak ketinggalan, mantelnya bergoyang-goyang setiap langkah.

Di tengah jalan, aku menoleh ke Nyx.

“Nyx, kau sudah pernah coba pakai sihir?”

Dia menggeleng pelan, suaranya kecil di balik tudung.

“…Nggak pernah. Mama bilang beastkin kucing hitam punya mana yang… aneh. Katanya lebih kuat buat sihir penguatan, tapi susah dikontrol. Aku cuma pernah lihat kakak laki-laki aku pakai sihir kecil buat bikin ototnya lebih kuat pas angkat kayu bakar.”

Aku mengangguk, berpikir.

“Jadi… sihir penguatan fisik? Kayak buff strength atau agility gitu?”

Nyx mengangguk lagi.

“Iya… tapi aku nggak tahu caranya. Aku cuma tahu mantra dasar yang diajarkan Mama dulu. Mantra panjang, butuh waktu lama buat ngucapinnya. Dan… aku nggak tahu efek pastinya apa aja yang ditingkatin. Kadang kakak bilang badannya lebih kuat, kadang lebih cepat, kadang lebih tahan sakit. Tapi nggak jelas.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu bagus kok. Sihir penguatan itu serbaguna. Kalau kau bisa kuasai, nanti bisa bantu aku di pertarungan—atau setidaknya bantu diri sendiri biar nggak gampang terluka. Nanti kita coba pelan-pelan. Aku juga masih belajar sihir, jadi kita sama-sama pemula.”

Nyx diam sebentar, lalu bicara pelan.

“…Kak Ely mau ajarin aku?”

“Tentu. Kalau kau mau belajar.”

Dia mengangguk cepat, ekornya di balik mantel bergerak-gerak senang—meski nggak kelihatan, aku bisa rasain getarannya.

Tanpa sadar, kami sudah sampai di depan gedung guild petualang. Bangunan besar dari batu dan kayu itu selalu ramai, papan misi di luar penuh orang yang lagi baca-baca. Beberapa petualang melirik ke arah kami—terutama ke mantel kebesaran Nyx—tapi nggak ada yang komentar apa-apa.

Aku dorong pintu guild, aroma kertas tua, tinta, dan sedikit bau keringat petualang langsung menyambut.

“Kita cari misi yang gampang dulu ya. Mungkin yang kumpulin herba, atau buru monster kecil yang nggak terlalu ganas. Biar kau bisa lihat-lihat dulu, dan mungkin coba sihir penguatanmu kalau ada kesempatan.”

Nyx mengangguk, matanya yang tersembunyi di balik tudung berkilau penasaran.

Kami mendekati papan misi. Aku scan cepat.

Ada beberapa yang kelihatan cocok:

- Kumpulkan 20 batang Moonlight Herb di hutan pinggir kota (imbalan 3 koin perak, tingkat Perunggu)

- Buru 10 Horn Rabbit di padang rumput selatan (imbalan 4 koin perak, tingkat Perunggu)

- Escort pedagang ke desa terdekat (imbalan 6 koin perak, butuh 2 orang, tingkat Perunggu)

Aku menoleh ke Nyx.

“Yang mana yang kau suka? Yang aman dulu, atau yang agak tantangan sedikit?”

Nyx diam sebentar, lalu menunjuk pelan ke misi escort pedagang.

“…Yang ini… Kak Ely. Kalau escort, nggak harus bertarung banyak. Aku… bisa coba sihir penguatan kalau ada bahaya kecil.”

Aku tersenyum.

“Bagus. Escort pedagang ke desa terdekat. Jaraknya nggak jauh, cuma setengah hari perjalanan. Kita ambil ini aja.”

Aku tarik kertas misi itu, lalu menuju meja resepsionis—yang sama seperti kemarin, mbak ponytail yang sopan.

“Kami ambil misi ini. Dua orang.”

Mbak resepsionis tersenyum, lalu melihat ke Nyx yang bersembunyi di balikku.

“Baik, Nona Elysia. Dan… ini rekan baru? Kartu identitasnya?”

Nyx menunduk lebih dalam.

Aku langsung jawab santai.

“Dia masih pemula, belum punya kartu. Nanti setelah misi ini selesai, aku daftarin dia juga. Untuk sekarang, aku yang tanggung jawab.”

Mbak resepsionis mengangguk, nggak nanya lebih lanjut—mungkin karena aku sudah punya rekam jejak selesaikan misi ogre kemarin.

“Baiklah. Pedagangnya sudah menunggu di depan guild. Namanya Pak Harlan, pedagang kain. Dia minta ditemani sampai Desa Rivermist. Berangkat sekarang kalau bisa.”

Aku mengangguk.

“Siap. Kami berangkat sekarang.”

Aku menoleh ke Nyx.

“Ayo, Nyx. Petualangan pertama kita berdua dimulai.”

Nyx menggenggam ujung mantelnya erat-erat, tapi matanya di balik tudung terlihat berbinar.

“…Iya, Kak Ely.”

Kami keluar guild, menuju ke gerobak pedagang yang sudah menunggu di depan.

More Chapters