Cherreads

Chapter 345 - Dimensi yang Tak Mengenal Hukum

Dimensi itu kembali bergetar.

Tak ada langit. Tak ada tanah. Hanya hamparan bentuk-bentuk geometris tak berujung yang tersusun dan runtuh dalam waktu bersamaan. Persegi-persegi cahaya berputar, membentuk ruang yang mustahil dipahami logika manusia.

Di tengah kekacauan itu, Storm Realms berdiri dengan napas berat.

Darah tipis mengalir dari pelipisnya.

Di hadapannya, Tesseract tetap melayang tanpa ekspresi. Entitas itu bahkan belum melangkah satu inci pun sejak pertarungan dimulai.

"Kau masih bertahan rupanya?" suara Tesseract menggema dari segala arah.

Storm menyeringai tipis. "Belum waktunya aku tumbang."

Rantai-rantai tak kasat mata kembali muncul—bukan terbuat dari besi, melainkan dari kehendak. Dari pikiran. Dari hukum dimensi itu sendiri.

WHUUSSH!

Puluhan rantai menerjang dari segala arah.

Storm menghilang.

TRANG! TRANG! TRANG!

Dengan gerakan kilat, ia bermanuver di antara celah dimensi yang retak, menebas rantai menggunakan sisa energi Ashura. Setiap tebasan memercikkan cahaya merah pekat yang membelah ruang.

Namun semakin ia bergerak, ruang di sekitarnya semakin menyempit.

Tesseract mengubah struktur dimensinya.

Persegi-persegi raksasa menyatu, membentuk dinding tak terlihat yang menekan Storm dari segala arah.

"Di sini," ujar Tesseract tenang, "aku adalah hukum."

BOOM!

Tekanan gravitasi mendadak meningkat ribuan kali lipat.

Tubuh Storm menghantam lantai transparan yang baru saja tercipta.

Retakan energi menyebar di bawahnya.

"Sial…!" giginya bergertak.

Bukan hanya gravitasi—ruang itu menolak keberadaannya. Setiap molekul seperti didorong keluar dari realitas.

Tesseract mengangkat satu tangan.

Seluruh dimensi berubah warna menjadi putih menyilaukan.

"Lenyaplah."

Sinar lurus melesat—bukan sekadar cahaya, tapi penghapusan eksistensi.

Dalam sepersekian detik, Storm memejamkan mata.

"Velora."

Suara itu lirih, namun cukup.

Sesuatu di dalam dirinya merespons.

Jantungnya berdetak satu kali—namun dentumannya mengguncang dimensi.

DUM.

Ruang di sekitar Storm menghitam. Bukan bayangan. Bukan kegelapan biasa.

Sebuah singularitas kecil muncul di depan telapak tangannya.

Sinar pemusnah itu tersedot.

Hilang.

Tesseract terdiam.

Untuk pertama kalinya, struktur dimensinya bergetar tanpa ia kehendaki.

Storm perlahan bangkit.

Matanya berubah gelap, seperti galaksi tanpa cahaya. Retakan hitam menjalar di kulitnya, seolah tubuhnya tak lagi sepenuhnya manusia.

"Aku sudah bilang," suaranya lebih dalam, lebih berat.

"Aku bukan manusia biasa."

Singularitas itu membesar. Bukan Black Hole yang ia panggil sebelumnya—ini berbeda.

Ini bukan teknik.

Ini dirinya.

Dimensi mulai melengkung ke arahnya. Persegi-persegi realitas terdistorsi, tertarik seperti debu kosmik.

"Mustahil…" gumam Tesseract. "Dimensiku tak boleh terpengaruh oleh eksistensi luar."

Storm melangkah maju.

Setiap pijakan membuat ruang runtuh lalu terbentuk kembali.

"Aku tidak peduli itu dimensimu atau bukan."

Dalam sekejap, ia menghilang.

Muncul tepat di depan Tesseract.

BOOM!

Tinju pertamanya menghantam perisai tak terlihat—namun kali ini perisai itu retak.

Retakan hitam menyebar seperti kaca pecah.

Tesseract terdorong mundur untuk pertama kalinya.

Dimensi berguncang hebat.

"Tidak mungkin…" suara Tesseract terdengar lebih berat. "Kau mempengaruhi fondasi ruangku."

Storm tidak memberi waktu.

Enam lengan energi gelap muncul di punggungnya—bukan dari Armor Scarlet.

Murni dari kekuatannya sendiri.

"Ini bukan teknologi," ucap Storm pelan.

"Ini perlawanan."

Serangan bertubi-tubi menghantam Tesseract.

BLARR! BOOM! TRANG!

Setiap benturan membuat dimensi retak lebih dalam. Garis-garis cahaya di angkasa pecah seperti cermin kosmik.

Tesseract akhirnya mengangkat kedua tangannya.

Seluruh ruang berhenti.

Waktu membeku.

Storm membeku di udara—hanya matanya yang masih bisa bergerak.

"Cukup."

Dimensi memutar balik hukum sebab-akibat. Luka di tubuh Tesseract menghilang. Retakan ruang menyatu kembali.

"Kau memang berbeda, Storm Realms. Tapi kau masih berada di bawahku."

Tiba-tiba, ribuan bentuk geometris tajam muncul mengelilingi Storm.

"Dimensional Collapse."

Semua bentuk itu menutup bersamaan.

LEDAKAN tanpa suara mengguncang kehampaan.

Ketika cahaya mereda—

Storm jatuh dari langit dimensi.

Tubuhnya penuh retakan energi hitam. Napasnya terengah.

Namun ia masih sadar.

Tesseract menatapnya dari kejauhan.

"Kau bisa melukai dimensiku," katanya dingin.

"Tapi belum cukup untuk membunuhku."

Storm tersenyum lemah.

"Bagus."

Ia perlahan berdiri lagi.

"Kalau begitu… aku akan jadi cukup kuat untuk itu."

More Chapters